Trump dan The Fed Bikin Derma Asing Rp 7 T Keluar dari RI

Trump dan The Fed Bikin Derma Asing Rp 7 T Keluar dari RI

Jakarta, CNBC Indonesia awut-awutan Modal asing rupanya sedang mencuaikan tanah air dalam sepekan terakhir, baik dari pasar saham maupun pasar obligasi. Tercatat dana ganjil yang keluar sekitar Rp tujuh, 36 triliun dalam sepekan terakhir.

Rinciannya, dari rekan saham hingga perdagangan sesi I hari ini, Jumat (19/6/2020), mutlak nilai net sell mencapai Rp 2, 23 triliun di segenap pasar. Jika dihitung selama tahun berjalan ( year to date ), total sarang sell asing mencapai Rp 11, 79 triliun di semua pasar, sementara di pasar regular mencapai Rp 28, 91 triliun.

Sementara itu, dari pasar obligasi dalam sepekan dari 10-17 Juni 2020, dana asing dengan keluar dari pasar obligasi Indonesia mencapai Rp 5, 13 triliun. Total net sell asing pada pasar obligasi Indonesia selama periode tahun berjalan Rp 129, 32 triliun.


Investor asing tampaknya menarik dana dari pasar negara berkembang (emerging market), termasuk Indonesia, setelah Pemerintah Amerika Konsorsium dan Bank Sentralnya (The Federal Reserve/The Fed), menggelontorkan mega provokasi.

Pemerintahan AS di bawah kendali Donald Trump bakal menggelontorkan stimulus dalam sektor infrastruktur hingga US$ satu triliun.

Menurut Bloomberg News, Trump menyiapkan stimulus terbaru yang fokus untuk membangun berkepanjangan, jembatan, terowongan, jaringan 5G.

Dikutip dari Forbes dengan melansir Bloomberg, Kamis (18/6/2020), ini bukan kali pertama Donald Trump merencanakan proyek fantastis infrastruktur.

Pada 2015, saat persuasi, Trump mengungkapkan bakal menggenjot infrastruktur dan pada 2017 saat tahun pertama ia menjabat investasi pada infrastruktur yang disiapkan mencapai US$ 2 triliun.

Tengah itu The Fed, sejak Senin lalu mulai melakukan pembelian kepada obligasi perusahaan di pasar sekunder sebagai bagian dari program pengaruh korporasi pasar sekunder senilai US$ 750 miliar atau Rp  10. 548, 1 triliun (kurs Rp 14. 064/US$) yang di danai oleh  The Coronavirus Aid, Relief, and Economic Security  (CARES)  Act  yang sudah disetujui oleh kongres Maret lalu.

Pada bawah aturan terbaru, The Fed siap membeli obligasi perusahaan dengan memiliki tingkat jatuh tempo pada bawah 5 tahun. Pembelian itu akan dilakukan bersamaan dengan  Exchange Traded Funds  (ETF) yang bakal terus dibeli The Fed.

Selanjutnya The Fed selalu sudah siap menampung obligasi kongsi tidak hanya dari pasar inferior tapi dari pasar primer selalu alias langsung dari perusahaan dengan menerbitkan obligasi.

Ketika perusahaan ingin meminjam uang, mereka bisa saja menerbitkan obligasi. Konsumen dari obligasi tersebut secara tepat meminjamkan perusahaan tersebut uang.

Saat ini The Fed siap membeli berbagai jenis obligasi perusahaan di berbagai sektor apabila obligasi tersebut memenuhi standar dengan ditetapkan The Fed.

Dengan adanya program ini perusahaan tidak perlu menunggu perputaran kekayaan dari institusi finansial dulu serta langsung mendapatkan dana segar dari  The Fed  dan dapat tepat membantu  Main Street  (Perekonomian riil AS).

“The Fed mencoba untuk membantu karena itu tahu ketidakpastian yang menanti ekonomi tahun ini, ” ujar Christopher Whalen, Direksi dari Whalen Ijmal Advisors.

Tentunya tujuan dari program ini adalah harapan  The Fed  bahwa dengan adanya program ini perusahaan yang kekurangan dana dapat langgeng berdiri dan tidak memecat pegawainya, bahkan diharapkan memanggil kembali pegawai yang sebelumnya dirumahkan.

Akan tetapi tidak semua kongsi bisa menjual obligasi  kepada The Fed, hanya perusahaan dengan rating obligasi di atas BBB- ataupun Baa3 per 22 Maret, pra The Fed mengumumkan program nama ini.

Untuk perusahaan yang memiliki rating BBB- atau Baa3 per 22 Maret bakal tetapi sekarang sudah mengalami penurunan, penurunan minimal terjadi sampai BB- atau Ba3.

Perusahaan yang menerbitkan obligasi juga tak boleh pernah menerima dukungan dengan spesifik dari CARES Act ataupun lembaga federal lainya dan tak boleh ada konflik kepentingan dalam penjualan obligasi tersebut.

Sementara itu, Bank Indonesia (BI), hingga saat ini belum penuh melakukan operasi moneter secara langsung. Hari ini, BI hanya memangkas suku bunga acuan atau BI 7 Day Reverse Repo  Rate sebesar 25 basis poin menjelma 4, 25%.

Saksikan video terpaut di bawah ini:

(hps/hps)

Author Image
Carl Wood