Soal Utang RI, Tenang… Belum Saatnya Dag Dig Dug!

Jakarta, CNBC Indonesia – Posisi utang negeri per akhir Juli 2021 berdasarkan data Kementerian Keuangan mencapai Rp 6. 570, 17 triliun dengan nalar 40, 51% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Mampukah Indonesia membayar utangnya?

Kalau dilihat posisi utang pemerintah pada Agustus 2021 bertambah Rp 1. 135, 31 triliun dibandingkan posisi simpulan Juli 2020 yang sejumlah Rp 5. 434, 86 triliun. Rasio utang tarikh lalu di periode yang sama juga hanya 33, 63% terhadap PDB.


Ekonom Bank Danamon Wisnu Wardhana berpandangan, tingkat utang Indonesia saat ini belum sangat mengkhawatirkan. Lagi pula taat Wisnu pemerintah telah mencari jalan memitigasi risiko pengelolaan pinjaman.

Misalnya, cara yang telah dilakukan pemerintah, kata Wisnu dengan memprioritaskan anggaran, sehingga defisit lebih rendah lantaran sasaran. Selain itu serupa berbagai beban dengan bank sentral untuk menurunkan beban bunga.

“Refinancing utang asing negeri dengan biaya bunga yang lebih murah, dan pengaturan tenor dan anjlok tempo dari instrumen dengan diterbitkan, ” jelas Wisnu kepada CNBC Indonesia, Rabu (22/9/2021).

Seperti diketahui, Pranata Pemeriksa Keuangan (BPK) telah melakukan audit laporan keuangan pemerintah pusat untuk tarikh anggaran 2020. PK mengindahkan beberapa hal yang harus diwaspadai pemerintah, salah satunya penambahan utang pemerintah.

Kepala BPK Agung Firman Sampurna mengungkapkan tren penambahan pinjaman pemerintah dan biaya kembang telah melampaui pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) dan penerimaan negara, yang dikhawatirkan pemerintah tidak mampu untuk membayarnya.

“Memunculkan kekhawatiran terhadap penurunan kemampuan pemerintah untuk membayar utang dan bunga utang, ” jelas Gede Firman dalam Rapat Lengkap pada bulan Juni 2021.

BPK juga mengungkapkan bahwa utang tahun 2020 sudah melampaui batas yang direkomendasikan IMF dan/atau International Debt Relief (IDR) yakni, rasio debt service terhadap tanggapan sebesar 46, 77% melampaui rekomendasi IMF sebesar 25% – 35%.

Kemudian, akal pembayaran bunga terhadap petunjuk sebesar 19, 06% melewati rekomendasi IDR sebesar 4, 6% – 6, 8% dan rekomendasi IMF sebesar 7% – 19%. Beserta rasio utang terhadap petunjuk sebesar 369% melampaui rekomendasi IDR sebesar 92% semrawut 167% dan rekomendasi IMF sebesar 90% – 150%.

Untuk diketahui, hingga simpulan Desember 2020, utang negeri sudah mencapai Rp enam. 074, 56 triliun. Posisi utang ini naik pas tajam dibandingkan dengan akhir tahun 2019 lalu. Pada satu tahun, utang Nusantara bertambah Rp 1. 296, 56 triliun dari akhir Desember 2019 yang tercatat Rp 4. 778 triliun.

Author Image
Carl Wood