Seberapa Menarik 3 Anggota Baru Ruang LQ45?

Seberapa Menarik 3 Anggota Baru Ruang LQ45?

Jakarta, CNBC Indonesia –  Salah satu indeks paling  prestisius di Bursa Efek Nusantara (BEI) adalah Indeks LQ45, indeks yang berisi 45 saham memutar likuid di pasar modal secara fundamental kinerja yang baik.

Disebut prestisius lantaran kondisi dan ketentuan bagi  emiten buat masuk ke indeks ini sangat ketat sehingga dalam periode tertentu hanya ada 45 saham bagian LQ45. Indeks ini pun menjelma acuan bagi pelaku pasar, termasuk investor ritel dan institusi sewarna pengelola reksa dana dan dana pensiun serta asuransi.

Tentunya, tim seleksi saham-saham yang akan menjadi anggota LQ45 tentunya tidak akan sembarangan memasukkan bagian yang meragukan untuk masuk  menjadi konstituen LQ45.


Emiten tersebut perlu memiliki kondisi keuangan yang sehat, prospek pertumbuhan dengan tinggi, serta nilai transaksi yang likuid agar bisa dipertimbangkan meresap ke dalam saham LQ45. BEI  melakukan evaluasi mayor setiap 6 bulan sekali, yakni Februari-Juli serta Agustus-Januari, sementara evaluasi  minor  di Mei-Juli.

Berikut tabel kinerja saham-saham yang menjadi konstituen baru LQ45 (Agustus 2020-Januari 2021) dan saham-saham yang keluar.

Berdasarkan data BEI, terpantau dua saham dengan didepak dari LQ45 yaitu PT Matahari Department Store Tbk (LPPF) dan PT Waskita Karya Tbk (WSKT). Dua saham ini berkinerja terburuk di antara anggota LQ45 lainnya, secara tahun berjalan ataupun year to date , dengan penurunan masing-masing 69% dan 57, 91%, mengacu masukan perdagangan akhir Juli 2020.

Satu lagi yang menimbrung didepak BEI  yakni PT Barito  Pacific Tbk  (BRPT), sahamnya telah ambles year to date sebesar 37, 09%.

Ketiga bagian ini digantikan oleh tiga bagian baru untuk periode Agustus 2020-Januari 2021 yakni emiten tambang emas Grup Saratoga  yakni  PT Merdeka Copper Gold Tbk  (MDKA), emiten pengelola rumah sakit PT Pacar Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA), dan emiten properti PT Summarecon Luhur Tbk (SMRA).

Kemampuan MIKA dan SMRA  masing-masing melorot 10, 11% dan 40, 30% year to date. Hanya MDKA  yang sahamnya berhasil pulih sebab pandemi virus corona dan tercermin  dari harganya yang secara tarikh berjalan  terapresiasi 67, 29%.

Transaksi Ramai?

Sebagaimana diketahui, kriteria saham masuk LQ45 di antaranya tercatat di BEI minimal 3 bulan, aktivitas transaksi  di pasar regular dari sisi nilai, volume, dan frekuensi transaksi, kapitalisasi pasar ( market capitalization ) periode tertentu, dan keadaan keuangan serta  peluang pertumbuhan perusahaan.

Sebelumnya Indeks LQ45 (juga Indeks IDX30) dihitung dengan menggunakan metode ‘rata-rata tertimbang atas kapitalisasi pasar’ atau ‘ market capitalisation weighting ‘ di mana tata cara ini menggunakan seluruh saham tercatat sebagai bobot perhitungan indeks saham.

Kini BEI  menaikkan lagi dasar perhitungan sejak 1 Februari 2019 dengan memperhitungkan  free  float (minimal jumlah saham publik beredar) jadi penyesuaian atas kapitalisasi pasar dengan digunakan  dalam perhitungan indeks LQ45 dan IDX30.

Situasi ini karena beberapa saham sedang tercatat berbentuk warkat ( scrip ) atau dimiliki oleh  investor strategis yang memiliki motif untuk mempertahankan kepemilikannya di dalam jangka panjang.

Terpaut dengan masuknya tiga anggota pertama LQ45, tentu menjadi pertanyaan apakah memang likuiditasnya  memang baik?

Secara umum, tampaknya kinerja harga saham satu emiten memang menjadi pertimbangan penting bagi BEI dalam menentukan konstituen LQ45, karena apabila kinerja harga LQ45 buruk maka bisa jadi khayalak umum memberikan cap gagal terhadap rekan saham RI.

Tersedia satu sorotan sejumlah kalangan pada pasar dan beberapa grup investasi pasar modal yang mempertanyakan masuknya satu anggota baru, dalam kejadian ini saham MIKA.

Masuknya saham MIKA menjadi keterkejutan tersendiri di akal sebagian investor. Memang, saham tersebut memiliki kapitalisasi pasar yang cakap yaitu Rp 34 triliun serta likuiditas yang memadai, akan tetapi transaksi harian saham MIKA kadang-kadang memunculkan tanda tanya.

Sebagai gambaran, berikut transaksi perniagaan saham MIKA apabila dikategorikan berdasarkan pembelian dan penjualan masing-masing pialang pada perdagangan Kamis (30/7/20).

LQ45, MIKA, harian Memotret: LQ45, MIKA, harian
LQ45, MIKA, harian

Berdasarkan data perdagangan BEI, terpantau 10 broker yang mengambil saham MIKA (buy) dengan total tertentu dan menjualnya dengan total yang sama di broker asing atas saham yang sama, sehingga terkesan adanya aktivitas transaksi yang terjadi hanya untuk meningkatkan likuiditas perdagangan saham.

Bahkan apabila dilakukan pengecekan transaksi makelar di saham MIKA secara harian, kejadian seperti ini seringkali terulang oleh broker-broker yang sama.

Hal ini dikhawatirkan bisa memunculkan  indikasi adanya ‘transaksi semu’ karena terdapat kemungkinan suatu perantara melakukan pembelian dari broker lain, kemudian setelah mendapat barang, agen tersebut akan kembali menjual sahamnya ke broker yang lain dengan jumlah lot yang sama.

Singkatnya hanya oper-oper barang selalu untuk memberikan kesan bahwa bagian tersebut likuid karena banyak calo yang melakukan aktivitas transaksi. Tentu ini menjadi wewenang dan mengindahkan dari BEI  untuk melihat kewajaran transaksi.

Biasanya pemilik akun  di broker-broker ini hanyalah  nominee,   dengan artinya  beneficial owner atau pemilik dana akhir sesungguhnya dari akun  ini hanyalah satu pihak.

Jadi perbandingan, selama setahun terakhir, tampak broker-broker yang sama juga melangsungkan pembelian dan penjualan dengan volume yang hampir sama.

Bahkan broker PT Onix Sekuritas (FM) melakukan pembelian saham MIKA dan menjualnya kembali dengan bagian yang sama persis yakni 551. 183 lot.

Peraturan Nomor 8 Tahun 1995 mengenai Pasar Modal sebetulnya sudah mengatur soal larangan perdagangan semu tersebut, melarang adanya transaksi yang tidak menyebabkan pergantian kepemilikan saham.

Larangan ini tertuang dalam Pasal 91 UU tersebut dengan berbunyi, Setiap Pihak dilarang melaksanakan tindakan, baik langsung maupun tidak langsung, dengan tujuan untuk menciptakan gambaran semu atau menyesatkan menerjang kegiatan perdagangan, keadaan pasar, ataupun harga Efek di Bursa Buah.

Pasal ini diperjelas dengan penjelasan yakni “Masyarakat bandar sangat memerlukan informasi mengenai kegiatan perdagangan, keadaan pasar, atau makna efek di Bursa Efek, yang tercermin dari kekuatan penawaran berniaga dan penawaran beli efek jadi dasar untuk mengambil keputusan investasi dalam Efek. ”

“Sehubungan dengan itu, ketentuan itu melarang adanya tindakan yang dapat menciptakan gambaran semu mengenai kesibukan perdagangan, keadaan pasar, atau kehormatan efek, antara lain:

a. Melakukan transaksi efek yang tidak mengakibatkan perubahan pemilikan; atau

b. Melakukan penawaran jual atau penawaran beli hasil pada harga tertentu, di mana pihak tersebut juga telah bersekutu dengan pihak lain yang menyelenggarakan penawaran beli atau penawaran berniaga efek yang sama pada kehormatan yang kurang lebih sama.

Hanya selalu, namanya aturan, ada saja celah yang terbuka. Masih ada loophole dari peraturan ini yakni dengan cara memakai nama orang lain atau perusahaan yang berbeda-beda alias nominee.

Dengan begitu,   dengan terdeteksi oleh BEI adalah orang atau perusahaan yang berbeda-beda dengan melakukan transaksi tersebut, padahal beneficial owner -nya sama.

Di rekan modal kegiatan ini terkenal dengan julukan painting the tape yang adalah kegiatan perdagangan antara rekening buah satu dengan rekening efek lain yang masih berada dalam penguasaan satu pihak ( beneficial owner ) atau memiliki keterkaitan sedemikian rupa, sehingga terbentuk perdagangan semu.

Tentunya kita berharap Bursa tidak sedang kembali kecolongan lagi seperti masa 2018 ketika memasukkan PT Hanson International Tbk (MYRX) ke jejeran saham LQ45 yang akhirnya menjadi blunder.

Sebab ternyata ada permasalahan di laporan keuangan  MYRX dan ada indikasi goreng-mengoreng saham di perusahaan ini sesudah direktur utamanya Benny Tjokrosaputro  (Bentjok) menjadi tersangka kasus dugaan manipulasi megaskandal  PT Asuransi Jiwasraya. Saham MYRX  bahkan kini berpotensi didepak dari Bursa.

TIM RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]
(trp/tas)

Author Image
Carl Wood