Riset Terbaru, Aspirin Tak Turunkan Risiko Kematian Covid-19

Jakarta, CNBC Indonesia –   Berdasarkan penelitian di Inggris, obat aspirin yang melimpah dan tersedia secara luas di pasar rupanya tidak dapat meningkatkan  peluang hidup bagi pasien yang dirawat di rumah sakit dengan Covid-19. Sebelumnya aspirin jumlah rendah dipercaya dapat menekan risiko masuk ICU dan kematian pada pasien terinfeksi Covid-19.

Peneliti Universitas Oxford mengatakan aspirin tidak membantu mencegah maut Covid-19. Padahal mereka berharap menemukan bahwa obat pengencer darah dapat membantu anak obat Covid-19 yang memiliki pengembangan risiko pembentukan gumpalan di pembuluh darah mereka, pertama di paru-paru.

Penelitian tersebut melibatkan hampir 15. 000 pasien dengan dirawat di rumah lara karena virus tersebut. Seakan-akan setengah dari pasien diberi 150 mg aspirin pada setiap hari dibandingkan dengan setengah lainnya yang diberi perawatan biasa saja.


Belajar ini menemukan bahwa “tidak ada bukti bahwa pengobatan aspirin mengurangi angka kematian” dan “tidak ada perbedaan yang signifikan” dalam total orang yang meninggal, secara 17% orang di ke-2 kelompok meninggal di sendi sakit setelah 28 hari.

Penelitian itu merupakan bagian dari uji coba ‘RECOVERY’ (pemulihan) dengan menyelidiki berbagai kemungkinan pembelaan untuk orang yang dirawat di rumah sakit karena virus corona.

“Data menunjukkan bahwa di dalam pasien yang dirawat pada rumah sakit dengan Covid-19, aspirin tidak dikaitkan dengan penurunan angka kematian 28 hari atau risiko tumbuh menjadi ventilasi mekanis invasif atau kematian, ” cakap Peter Horby, profesor penyakit menular baru di Bagian Nuffield of Medicine dalam University of Oxford, dikutip dari CNBC International.

“Meskipun aspirin dikaitkan dengan sedikit peningkatan peluang dipulangkan hidup-hidup, ini tampaknya tidak cukup untuk membenarkan penggunaannya secara luas untuk pasien yang dirawat dalam rumah sakit dengan Covid-19, ” lanjut dan besar penyelidik bersama untuk uji coba RECOVERY tersebut.

Sementara Martin Landray, profesor kedokteran dan epidemiologi di Nuffield Department of Population Health di University of Oxford dan satu diantara peneliti utama dalam studi tersebut, cukup kecewa dengan hasil penelitian.

“Ada dugaan kuat bahwa pembekuan darah mungkin bertanggung jawab atas memburuknya kegiatan paru-paru dan kematian di dalam pasien dengan Covid-19 dengan parah, ” katanya.

“Aspirin tidak garib dan banyak digunakan dalam penyakit lain untuk mengurangi risiko pembekuan darah jadi mengecewakan karena tidak berdampak besar pada pasien ini. Inilah sebabnya mengapa tes coba besar secara acak sangat penting, untuk memasang perawatan mana yang jadi dan mana yang tidak. ”

Uji coba RECOVERY telah melaksanakan beberapa penemuan yang menyelamatkan jiwa, salah satunya adalah bahwa deksametason, steroid dengan murah dan banyak dimanfaatkan, mampu menyelamatkan nyawa diantara pasien Covid-19 yang sakit parah.

Hasil studi aspirin terbaru hendak segera dipublikasikan di posisi pra-cetak medRxiv dan telah diserahkan ke jurnal medis peer-review terkemuka.

[Gambas:Video CNBC]
(hoi/hoi)

Author Image
Carl Wood