Pegawai di Atas 50 Tahun, Dilarang Kerja di Shift 3

Pegawai di Atas 50 Tahun, Dilarang Kerja di Shift 3

Jakarta, CNBC Indonesia – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) biar mengeluarkan beleid terkait panduan pencegahan dan pengendalian COVID-19 di tempat kerja. Dalam peraturan ini, satu diantara isinya melarang karaywan  yang usianya di atas 50 tahun berkerja  pada shift-3

Di mengumumkan dari website Sekretariat Kabinet, Gajah Kesehatan Terawan Agus Putranto mengucapkan dunia usaha dan masyarakat pelaku memiliki kontribusi besar dalam menutup mata rantai penularan karena bilangan jumlah populasi pekerja dan bilangan mobilitas. Selain itu interaksi warga umumnya terjadi karena adanya pekerjaan bekerja.

“Tempat kerja sebagai lokus interaksi dan berkumpulnya orang merupakan faktor risiko dengan perlu diantisipasi penularannya, ” katanya di Jakarta, Sabtu (23/5).



Aturan ini tertuang dalam Kementerian Kesehatan (Kemenkes) telah menimbulkan Keputusan Menteri Kesehatan (Menkes) Cetakan HK. 01. 07/MENKES/328/2020 tentang Panduan Pencegahan dan Pengendalian Covid-19 pada Tempat Kerja Perkantoran dan Industri dalam Mendukung Keberlangsungan Usaha di dalam Situasi Pandemi.

Sebelumnya Peraturan Pemerintah nomor 21 Tahun 2020 tentang Pembatasan Sosial Berskala Mulia (PSBB) dalam rangka percepatan penanganan Covid-19 telah menyatakan bahwa PSBB dilakukan salah satunya dengan meliburkan tempat kerja.

Tetapi dia menegaskan dunia kerja tak mungkin selamanya dilakukan pembatasan, jentera perekonomian harus tetap berjalan.

“Untuk itu pasca pemberlakuan PSBB dengan kondisi pandemi Covid-19 yang masih berlangsung, perlu dilakukan upaya mitigasi dan kesiapan tempat kerja seoptimal mungkin sehingga mampu beradaptasi melalui perubahan pola tumbuh pada situasi Covid-19 atau New Normal, ” ujar Terawan.

Panduan pencegahan penularan Covid-19 secara rinci antara lain:

A. Selama PSBB bagi Tempat Kerja

a. Kebijakan Manajemen dalam Pencegahan Penularan Covid-19

  1. Pihak manajemen supaya senantiasa memantau dan memperbaharui kelanjutan informasi tentang Covid-19 di wilayahnya. (Secara berkala dapat diakses pada https://infeksiemerging.kemkes.go.id. dan kebijakan Pemerintah Daerah setempat).
  2. Pembentukan Tim Penanganan Covid-19 di tempat kegiatan yang terdiri dari Pimpinan, bagian kepegawaian, bagian K3 dan petugas Kesehatan yang diperkuat dengan Surat Keputusan dari Pimpinan Tempat Kegiatan.
  3. Pimpinan atau sponsor kerja memberikan kebijakan dan prosedur untuk pekerja melaporkan setiap ada kasus dicurigai Covid-19 (gejala hangat atau batuk/pilek/nyeri tenggorokan/sesak nafas) buat dilakukan pemantauan oleh petugas kesehatan.
  4. Tidak memperlakukan urusan positif sebagai suatu stigma.
  5. Pengaturan bekerja dari sendi (work from home).

Menentukan pekerja esensial yang perlu tetap bekerja/datang ke tempat kerja dan pekerja yang dapat melakukan pekerjaan dari rumah.

b. Jika ada pekerja esensial yang harus tetap bekerja selama PSBB berlangsung:

  1. Di pintu masuk tempat kerja lakukan pengukuran suhu dengan memakai thermogun, dan sebelum masuk kegiatan terapkan Self Assessment Risiko Covid-19 untuk memastikan pekerja yang mau masuk kerja dalam kondisi tidak terjangkit Covid-19.
  2. Penyerasian waktu kerja tidak terlalu lama (lembur) yang akan mengakibatkan praktisi kekurangan waktu untuk beristirahat yang dapat menyebabkan penurunan sistem kekebalan/imunitas tubuh.
  3. Untuk pekerja shift:

a) Jika memungkinkan tiadakan shift 3 (waktu kerja yang dimulai pada malam hingga pagi hari);

b) Bagi pelaku shift 3 atur agar dengan bekerja terutama pekerja berusia invalid dari 50 tahun.

4. Mewajibkan praktisi menggunakan masker sejak perjalanan dari/ke rumah, dan selama di wadah kerja

5. Mengatur asupan nutrisi makanan yang dikasih oleh tempat kerja, pilih buah-buahan yang banyak mengandung vitamin C seperti jeruk, jambu, dan sebagainya untuk membantu mempertahankan daya awet tubuh. Jika memungkinkan pekerja mampu diberikan suplemen vitamin C

6. Memfasilitasi tempat kegiatan yang aman dan sehat;

a) Higiene dan sanitasi lingkungan kerja.

Memastikan seluruh area kerja bersih dan higienis dengan melakukan pembersihan dengan berkala menggunakan pembersih dan desinfektan yang sesuai (setiap 4 jam sekali). Terutama pegangan pintu serta tangga, tombol lift, peralatan jawatan yang digunakan bersama, area, & fasilitas umum lainya.

Menjaga kualitas udara tempat kegiatan dengan mengoptimalkan sirkulasi udara serta sinar matahari masuk ruangan kegiatan, pembersihan filter AC.

b) Sarana basuh tangan

Menyediakan lebih banyak sarana cuci tangan (sabun dan air mengalir). Memberikan petunjuk lokasi sarana cuci tangan; Mencantumkan poster edukasi cara mencuci tangan yang benar; Menyediakan handsanitizer secara konsentrasi alkohol minimal 70% pada tempat-tempat yang diperlukan (seperti pintu masuk, ruang meeting, pintu lift, dll);

c) Physical Distancing dalam semua aktivitas kerja.
Pengaturan jarak mengiringi pekerja minimal 1 meter dalam setiap aktivitas kerja (pengaturan meja kerja/workstation, pengaturan kursi saat di kantin, dll).

d) Mengkampanyekan Gerakan Masyarakat Hidup Bugar (GERMAS) melalui Pola Hidup Segar dan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di tempat kerja seperti Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS).

Mendorong pelaku mencuci tangan saat tiba dalam tempat kerja, sebelum makan, setelah kontak dengan pelanggan/pertemuan dengan orang lain, setelah dari kamar mandi, setelah memegang benda yang jalan terkontaminasi.

Etika batuk Melatih etika batuk, tutup mulut dan hidung dengan lengan atas periode dalam dan jika menggunakan tisu untuk menutup batuk dan radang selaput lendir, buang tisu bekas ke wadah sampah yang tertutup dan cuci tangan dengan sabun dan air mengalir setelahnya.

Olahraga bersama sebelum kerja dengan langgeng menjaga jarak aman, dan seruan berjemur matahari saat jam bubar. Makan makanan dengan gizi sebanding, dan menghindari penggunaan alat karakter secara bersama seperti alat doa, alat makan, dan lain.

c. Sosialisasi dan Edukasi pelaku mengenai Covid-19.

  1. Edukasi dilakukan secara intensif kepada seluruh pekerja dan rumpun agar memberikan pemahaman yang benar terkait masalah pandemi Covid-19, jadi pekerja mendapatkan pengetahuan untuk dengan mandiri melakukan tindakan preventif & promotif guna mencegah penularan aib, serta mengurangi kecemasan berlebihan kelanjutan informasi tidak benar.
  2. Materi edukasi yang dapat dikasih:

  1. Pasal Covid-19 dan cara pencegahannya;
  2. Mengenali gejala awal aib dan tindakan yang harus dikerjakan saat gejala timbul;
  3. Praktik PHBS seperti praktik mencuci tangan yang benar, etika batuk
  4. Alur pelaporan & pemeriksaan bila didapatkan kecurigaan;
  5. Metode edukasi yang sanggup dilakukan: pemasangan banner, pamflet, akbar dinding, dll di area penting yang mudah dilihat setiap praktisi seperti di pintu masuk, area makan/kantin, area istirahat, tangga beserta media audio & video yang disiarkan secara berulang. SMS/whats up blast ke semua pekerja secara berkala untuk mengingatkan.
  6. Materi edukasi dapat diakses di dalam www.covid19.go.id.

“Dengan menerapkan panduan ini diharapkan dapat meminimalisasi risiko dan dampak pandemi Covid-19 pada tempat kerja khususnya perkantoran dan industri, dimana terdapat potensi penularan akibat berkumpulnya banyak orang dalam satu lokasi, ” kata Menkes Terawan.

[Gambas:Video CNBC]

(hps/hps)

Author Image
Carl Wood