Nasib CPO, Makin Tak Berdaya Zaman Harga Minyak Jatuh

Nasib CPO, Makin Tak Berdaya Zaman Harga Minyak Jatuh

Jakarta, CNBC Indonesia semrawut Harga komoditas primadona Negeri Jiran dan Indonesia yakni minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) masih melanjutkan tren koreksinya seiring dengan jatuhnya harga minyak mentah.

Selasa (28/4/2020), harga CPO kontrak pengiriman Juli 2020 dibanderol RM 1. 995 per metrik ton. Makna CPO turun 23 ringgit atau melemah 1, 14% dibanding kondisi penutupan pekan lalu.



Ambrolnya harga CPO tak jatuh dari kembali jatuhnya harga patra mentah. Harga minyak mentah rujukan Negeri Paman Sam yakni West Texas Intermediate (WTI) turun kaya hingga 14, 79%.

Penurunan harga minyak dipicu oleh program US Oil Fund yang berencana menjual semua kontrak pengiriman Juni dan beralih ke kontrak dengan jangka lebih panjang. Banjir pasokan minyak mentah menjadi penyebab pati anjloknya harga minyak.

Akibat pandemi virus corona (COVID-19) yang membuat roda perekonomian melambat dan nyaris berhenti karena lockdown, permintaan minyak mentah global diperkirakan anjlok 30 juta barel bagi hari (bpd).

Sementara itu, produksi hanya dipangkas 9, 7 juta bpd dan baru akan dimulai Mei belakang oleh negara-negara produsen minyak sesuai Arab, Rusia dan koleganya dengan tergabung dalam OPEC+.

Anjloknya permintaan minyak secara kaya dan tidak diimbangi dengan pemangkasan produksi minyak yang setara menyusun keseimbangan supply dan demand senjang.

Oversupply berlaku hingga kini banyak yang kekhawatiran menyimpan minyak yang tak dimakan di mana lagi mengingat daya storage hampir terisi penuh. Situasi ini memicu harga minyak jatuh signifikan.

Bagaikan diketahui bersama, CPO merupakan satu diantara bahan baku untuk membuat biodiesel. Biodiesel adalah bahan bakar terbarukan substitusi bahan bakar fosil sesuai minyak. Sehingga wajar bila pergerakan harga minyak turut menjadi hati yang menggerakkan harga CPO.

Di sisi lain, kehormatan CPO sendiri juga tengah dibayangi oleh pelemahan permintaan akibat pandemi COVID-19 yang menghantam 185 negeri dan teritori di seluruh negeri.

Walau ekspor minyak sawit Malaysia naik 8% dari bulan lalu jika mengacu pada survei yang dilakukan kongsi pelacak kargo, tetap saja ekspor tergolong rendah mengingat ekspor Maret mengalami kontraksi.

Belum lagi bila menengok adanya ancaman yang datang dari potensi kenaikan produksi. Pada umumnya pada kuartal kedua produksi CPO dalam Indonesia maupun Malaysia mengalami kenaikan.

Seasonality Produksi di Malaysia & Indonesia

Foto: Refinitiv

Tak bisa dipungkiri pandemi COVID-19 telah membuat dinamika rekan perubah. Keseimbangan antara permintaan serta pasokan menjadi goyah. Jika epidemi tak segera dapat diatasi, oleh karena itu dampak ekonominya akan makin benar-benar dan permintaan terhadap komoditas gawat makin melemah dan harga biar bisa turun semakin dalam.

TIM RISET CNBC INDONESIA (twg/twg)

Author Image
Carl Wood