Masa Orang Ramai-Ramai Demo Menolak ‘PSBB’

Masa Orang Ramai-Ramai Demo Menolak ‘PSBB’

Jakarta, CNBC Indonesia – Sejumlah negeri di dunia telah kembali menerapkan pembatasan ketat, atau semacam ‘PSBB’  di Indonesia demi mencegah penyebaran lebih lanjut dari wabah virus corona (Covid-19), termasuk Spanyol serta Inggris.

Namun banyak warga di kedua negara itu yang menyampaikan protes penolakan dengan langsung dari kebijakan ‘PSBB’ atau lockdown  parsial.

Di Madrid misalnya, Ibu kota Spanyol itu telah dilanda demo dengan menentang penerapan kembali aturan penguncian (lockdown) parsial yang diumumkan pemerintahnya. Penolakan itu dilakukan utamanya pada lingkungan warga berpenghasilan rendah dengan padat penduduk.


Spanyol telah kembali menerapkan aturan lockdown parsial sejak 21 September. Langkah tersebut mempengaruhi sekitar 850. 000 orang, di mana mereka tidak diizinkan keluar rumah kecuali untuk keterangan pekerjaan, sekolah atau medis.

Taman serta restoran di sejumlah kota pula ditutup dan dibatasi operasinya, hanya diizinkan buka hingga pukul 10 malam.

Pemerintah selalu berencana untuk melakukan pembatasan sedang pada Senin besok (28/9/2020). Tetapi, langkah yang akan mempengaruhi 167. 000 orang itu ditentang total.

“Ini bukan pengurungan, ini pemisahan! ” teriak pendemo di tengah kerumunan di asing gedung parlemen pemerintah daerah Madrid di distrik selatan Vallecas. Wilayah ini merupakan salah satu lingkungan di selatan yang terkena efek tindakan penguncian parsial yang mulai berlaku pekan lalu, menurut AFP.

Para pengunjuk rasa bahkan menganjurkan pengunduran diri pemimpin daerah konservatif Madrid Isabel Diaz Ayuso. Ia telah menuai kritik dari awak setelah mengatakan bahwa gaya hidup orang-orang di daerah yang tersentuh dampak turut menjadi penyebab meningkatnya kasus Covid-19 Spanyol.

Selain di Spanyol, penolakan terhadap pembatasan skala besar juga terjadi di Inggris. Pada Sabtu sore lalu terjadi demo besar di depan Trafalgar Square London untuk menentang aturan pembatasan yang diumumkan pemerintahan Perdana Menteri Boris Johnson.

Ribuan orang, dengan sebagian besar tidak mengenakan masker, memenuhi alun-alun ikonik itu. Itu berkumpul mendengarkan pembicara yang mengkritik pembatasan yang diberlakukan pemerintah. Itu menyebut pembatasan sebagai reaksi berlebihan terhadap pandemi, membatasi hak pokok manusia (HAM) dan kebebasan berekspresi publik.

“Kerumunan di Trafalgar Square belum mematuhi ketentuan penilaian risiko mereka dan membawa orang dalam bahaya penularan virus, ” kata polisi yang bertugas mengamankan di lokasi dalam suatu pernyataan.

“Kami sekarang meminta mereka yang berada pada Trafalgar Square untuk pergi, ” kata polisi itu mengutip CNBC International.

Sebelumnya pada awal minggu lalu, pemerintah Inggris telah menerapkan jam malam bagi bar dan restoran. Mereka hanya bisa hidup hingga jam 10 malam. Selain itu, aturan pencegahan penularan seperti memakai masker dan menjaga tenggang juga diperketat, dengan ancaman dam yang sangat tinggi.

Baik Spanyol maupun Inggris sama-sama menjadi negara yang memiliki urusan corona terbanyak di Eropa serta dunia. Inggris saat ini mempunyai 429. 277 kasus Covid-19 dengan 41. 971 kematian, menjadikannya negeri ke-14 dengan kasus corona tertinggi di dunia.

Sementara Spanyol yang memiliki 735. 198 kasus dan 31. 232 moralitas secara nasional, berada di urutan ke-7 daftar negara dengan urusan corona terbanyak di dunia.

[Gambas:Video CNBC]
(hoi/hoi)

Author Image
Carl Wood