Kusam! Rata-rata Harga Minyak ICP 2020 Cuma US$ 35/Barel

Kusam! Rata-rata Harga Minyak ICP 2020 Cuma US$ 35/Barel

Jakarta, CNBC Indonesia – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memproyeksikan rata -rata harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) datang akhir tahun 2020 hanya menyentuh US$ 35, 40 per barel.

Direktur Pembinaan Program  Migas Soerjaningsih  mengatakan  harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) April tercatat  di  level US$ 20, 66  bagi barel.

Secara lebih rinci diproyeksikan ICP Mei hendak naik menjadi US$ 20, 77 per barel, Juni di tangga US$ 23, 44 per barel, Juli di level US$ 27, 33 per barel, dan Agustus di level US$ 30, 82 per barel.



Lalu, September di level US$ 33, 20 per barel, Oktober US$ 35, 51 per barel, November US$ 37, 68 per barel, dan Desember US$ 39, 17 per barel. Sehingga rata-rata di satu tahun 2020 ICP hendak berada di level US$ 35, 40 per barel.

“Akhir tahun minyak posisi US$ 40 (US$ 39, 17) rata-rata jadi US$ 34 per barel, ” ungkapnya dalam konferensi per maya, Jumat, (15/05/2020).

Lebih lanjut ia  menjelaskan prediksi ICP Mei – Desember 2020 menggunakan formula penetapaan harga April 2020 (Dated Brent ±  Alpha “Alternatif 2”). Date brent dalam perkiraan ICP menggunakan rata-rata prediksi harga dated harga dated brent dari 5 publikasi internasional.

“Perkiraan harga dated brent akan rebound dan mulai menyusun Mei 2020, ” paparnya.

Praktisi sektor hulu migas Tumbur Parlindungan mengatakan level makna ICP  saat ini menjadi tangga paling rendah dalam 20 tarikh terakhir. Menurutnya, perusahaan migas selalu menghadapi hal seperti ini, terbang turunnya harga komoditas. 

Ia menjelaskan, yang menjadi masalah sekarang ini, dari sisi permintaan sangat sedikit, sementara terjadi kelebihan stok alias  oversupply. “Dampaknya ke industri, investasi akan di-delay  tidak ada  major  investasi, eksplorasi juga akan sangat minim, ” ungkapnya, Jumat, (15/5/2020).

Lebih lanjut dia mengatakan perusahaan akan berupaya membela produksi dan pengurangan biaya. Di kondisi seperti ini yang paling susah adalah perusahaan jasa ataupun perusahaan pendukung minyak dan gas, karena sangat sulit bagi itu untuk bertahan. 



[Gambas:Video CNBC]

(gus)

Author Image
Carl Wood