Heru Hidayat Dituntut Bui Seumur Hidup, Ganti Rugi Rp 10, tujuh T

Heru Hidayat Dituntut Bui Seumur Hidup, Ganti Rugi Rp 10, tujuh T

Jakarta, CNBC Indonesia – Sidang tuntutan pada salah satu terdakwa kasus terkaan korupsi PT Asuransi Jiwasraya (Persero) yakni  Komisaris Utama PT Trada  Alam Minera  Tbk  (TRAM) Heru  Hidayat dibacakan hingga Kamis malam ini (15/10/2020) oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU).

Dalam sidang tuntutan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, JPU  terlebih dahulu membacakan tuntutan kepada terdakwa lainnya yakni Direktur Utama  PT Hanson International Tbk (MYRX), Benny Tjokrosaputro, atau Bentjok.  

Pada pukul 22. 46 WIB, Kamis malam, JPU  membacakan tuntutan untuk Heru  Hidayat.


Menyatakan bahwa Heru  Hidayat terbukti secara sah dan meyakinkan menurut hukum bersalah melakukan aksi pidana korupsi secara bersama-sama serta tindak pidana pencucian uang (TPPU).

Hal ini sebagaimana dalam dakwaan 1 primer Pasal 2 Ayat satu juncto Pasal 18 ayat (1) huruf b, ayat (2) & ayat (3) Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas UU  Bagian 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUH Pidana dan Pasal 3 UU ayat 1 huruf C UNDANG-UNDANG Nomor 15 tahun 2002 mengenai TPPU.

Menjatuhkan kejahatan terhadap terdakwa Heru  Hidayat dengan  pidana penjara seumur hidup & pidana denda sebesar Rp 5 miliar, subsider selama 1 tarikh kurungan dengan perintah supaya tersangka tetap dalam tahanan.

Membayar uang pengganti sebesar 10 triliun 728 miliar 783 juta 375 ribu rupiah (Rp 10, 728 triliun).

Jika terdakwa Heru  Hidayat tidak membayar uang pengganti paling lama di dalam 1 bulan sesudah putusan mahkamah hukum tetap maka harta substansi terdakwa dapat disita oleh jaksa dan dalam menutupi uang substitusi tersebut.

Bila  terdakwa tidak mempunyai harta benda yang mencukupi untuk membayar denda pengganti maka diganti pidana selama 10 tahun.

“Hal dengan memberatkan, yakni tidak mendukung negeri dalam pemberantasan korupsi, lalu kesusahan negara yang sangat besar 16 triliun 877 miliar 283 juta 375 ribu rupiah, dan tersangka tidak akui perbuatannya, ” sekapur JPU, dalam pembacaan tuntutan.

Adapun besaran ganti hilang di tuntutan akhir Heru sejumlah Rp 10, 728 triliun tersebut lebih tinggi dari tuntutan pada saat pembacaan awal oleh JPU.  

Sebelumnya, dalam pembacaan tuntutan di awal, JPU meminta keduanya, Heru  dan Bentjok, harus mengembalikan uang kerugian negara yang telah menyentuh triliunan rupiah yakni mencapai Rp 12, 157 triliun, masing-masing sejumlah Rp 6, 078 triliun.

“Benny Tjokrosaputro dan Heru Hidayat telah diperkaya sebesar 12 triliun 157 miliar. Untuk itu terdakwa Benny Tjokrosaputro dan Heru Hidayat harus mengganti kerugian negeri tersebut masing-masing 6 triliun 78 miliar 500 juta, ” cakap JPU.

Dengan perubahan angka ganti rugi Heru  yang mencapai Rp 10, 728 triliun, ditambah ganti rugi oleh Bentjok  Rp 6, 078, maka total ganti rugi keduanya mencapai Rp 16, 81 triliun.

Jumlah ini sama dengan mutlak potensi kerugian negara berdasarkan hitungan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) yakni  Rp 16, 81 triliun.  

Sebagai informasi,   Heru  adalah Komut dari Trada  Alam Minera dan juga PT Inti Agri Resources Tbk (IIKP).

Pembacaan tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) terhadap dua terdakwa dalam kasus dugaan korupsi PT. Asuransi Jiwasraya (Persero) akhirnya digelar hari ini, Kamis (15/10/2020). (CNBC Indonesia/Tri Susilo) Foto: Pengajian tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) terhadap dua terdakwa dalam kejadian dugaan korupsi PT. Asuransi Jiwasraya (Persero) akhirnya digelar hari ini, Kamis (15/10/2020). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Pembacaan tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) terhadap dua terdakwa dalam kasus dugaan korupsi PT. Asuransi Jiwasraya (Persero) akhirnya digelar hari ini, Kamis (15/10/2020). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Bentjok

Untuk Bentjok, juga dibacakan tuntutan oleh JPU  terlebih dahulu.

JPU menyatakan, terdakwa Benny Tjokrosaputro terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana manipulasi bersama-sama.

Hal ini sesuai dalam Perkara 2 Ayat 1 juncto Pencetus 18 ayat (1) huruf b, ayat (2) dan ayat (3) Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Manipulasi, sebagaimana diubah dengan UU Cetakan 20 Tahun 2001 tentang transformasi atas UU Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUH Kejahatan dan Pasal 3 UU No 8 Tahun 2010 tentang TPPU .

Menghukum terdakwa dengan pidana seumur hidup dengan perintah terdakwa tetap ditahan pada rumah tahanan negara.

Membayar denda sebesar Rp 5 miliar, subsider selama 1 tarikh kurungan.

Selain itu, Bentjok juga diminta membayar uang pengganti sebesar 6 triliun 78 miliar 500 juta (Rp 6. 078, 5 miliar).

“Jika terdakwa tidak membayar uang pemangku paling lama dalam 1 kamar sesudah putusan pengadilan hukum oleh sebab itu harta benda disita oleh jaksa dan rela menjadi uang pemangku tersebut, ” kata JPU .

“Jika terpidana dinyatakan bersalah dan dihukum selain seumur hidup ataupun mati, serta terpidana tidak menyimpan harta yang mencukupi untuk menutup maka akan diganti dengan penjara selama 10 tahun. ”

Sebelumnya dalam 12 Oktober lalu, sudah dibacakan tuntutan kepada empat terdakwa Jiwasraya lainnya dengan pidana maksimal, yakni penjara seumur hidup.

Pertama , mantan Direktur Utama Jiwasraya, Hendrisman Rahim, diputus bersalah telah melaksanakan korupsi dengan memperkaya diri dan Benny Tjokro dkk senilai Rp 16 triliun dan dihukum seumur hidup.

Kedua , bekas Direktur Keuangan Jiwasraya, Hary Prasetyo , juga divonis hukuman tangsi seumur hidup.

Ketiga , bekas Kepala Divisi Investasi dan Keuangan Jiwasraya, Syahmirwan , divonis penjara sebaya hidup karena bersalah dalam kasus korupsi Jiwasraya.

Vonis terhadap Syahmirwan lebih berat dari tuntutan JPU sebelumnya, yakni pidana kurungan selama 18 tahun dan dam senilai Rp 1 miliar.

Keempat , Joko Hartono Tirto , Direktur PT Maxima Integra , dinyatakan terbukti bersalah melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-sama sebagaimana tersebut dalam dakwaan primer dan dihukum dengan pidana penjara selama seumur hidup.

Tak hanya tersebut, dalam kasus Jiwasraya, Kejagung selalu menetapkan satu pejabat Otoritas Jasa Keuangan dan 13 perusahaan manajer investasi (MI) sebagai tersangka.

[Gambas:Video CNBC]
(tas/tas)

Author Image
Carl Wood