Era Trader-trader Saham Bunuh Diri serta Jadi Tumbal Wall Street

Era Trader-trader Saham Bunuh Diri serta Jadi Tumbal Wall Street

Jakarta, CNBC  Indonesia –  Kabar mengejutkan datang dari Amerika Serikat (AS) khususnya terpaut dengan pasar modal. Seorang trader berusia 20 tahun, Alex Kearns, dilaporkan bunuh setelah memiliki saldo negatif US$ 730. 165.

Alex dilaporkan menempelkan suatu pesan di pintu kamarnya untuk menyalakan laptopnya. Saat sang ayah, Daniel Kearns, menyalakan laptop, hidup, Sebuah surat empat paragraf menonjol di layar. “Jika Anda membaca ini, maka saya sudah asal, ” catatan itu dimulai, laksana dikutip dari CNBC Internasional.

Itu kurang dari 24 jam setelah Alex memeriksa akunnya di aplikasi perdagangan yang betul populer, Robinhood. Dalam catatannya, Alex berpikir memiliki saldo minus US$ 730. 165 atau sebesar Rp 10, 22 miliar (kurs Rp 14. 000). Tetapi Alex agak-agak telah salah memahami laporan keuangan tersebut bahwa dia memiliki pinjaman sebesar tersebar, menurut seorang keluarga.


“Dia pikir tempat terekspos, dia berpikir bahwa menyudahi hidupnya akan melindungi keluarganya daripada utang tersebut, ” ujar Bill Brewster, sepupunya dan seorang analis di Sullimar Capital, mengatakan kepada CNBC dalam sebuah wawancara telepon. “Dia naik sepeda dan tidak pernah pulang. ”

Tubuh Alex ditemukan pada hari Jumat, ujar Kepala Pemadam Kebakaran Plainfield Illinois, Jon Stratton. Alex, mahasiswa tingkat dua Jurusan Tadbir di Universitas Nebraska di Lincoln, sedang mempelajari manajemen dan memiliki minat yang semakin besar pada pasar keuangan.

Dunia pasar modal mematikan korban meninggal bukan merupakan hal yang baru. Pada tahun 2014 lalu, banyak banker Wall Street yang juga mengakhiri hidupnya.  

“Ini bukan sebuah tren (bunuh diri), tetapi tetap harus dilihat lebih dekat” sekapur seorang pegawai Wall Street yang mengetahui serangkaian bunuh diri tersebut, sebagaimana dilansir Business Insider 21 Februari 2014 lalu.

“Setiap individu memiliki masalah yang berbeda-beda. Anda tidak akan pernah tahu apa yang membuat karakter tersebut mencapai suatu titik buat mengakhiri hidupnya. Bisa jadi itu adalah pekerjaan mereka, kehidupan awak, dan ketika anda memiliki perusahaan besar, anda akan menghadapi bertambah beberapa orang dengan masalah berbeda” logat sumber tersebut.

Tahu jauh ke belakang, di tahun 1929 ada cerita yang lebih horor lagi. Para investor Wall Street dilaporkan terjun dari gedung pencakar langit akibat ambrolnya bursa saham AS. Hari itu, 24 Oktober 1929, dikenal dengan Black Thursday.

Saat tersebut, indeks Dow Jones langsung runtuh 11% begitu perdagangan dibuka. Melansir Investopedia, Black Thursday menjadi mula dari aksi jual masif berhari-hari yang menimpa bursa saham AS, hingga akhirnya ambrol nyaris 90% dan belum mampu mencapai tangga pra-Black Thursday hingga 25 tahun kemudian.

Ambrolnya pasar uang saham AS tersebut diiringi secara cerita banyaknya para investor dengan bunuh diri dengan terjun dari gedung.

Tetapi, rencana horor tersebut dikatakan hanya sebuah legenda. Tidak ada bukti adanya tren kasus bunuh diri, khususnya terjun dari gedung saat Ambrolnya Wall Street di tahun 1929.

“Di Amerika Konsorsium, gelombang bunuh diri saat rekan saham runtuh merupakan bagian sebab legenda 1992. Faktanya, hal tersebut tidak pernah ada, ” tulis ekonom Kenneth Galbraith dalam bukunya yang berjudul The Great Crash 1992, sebagaimana dilansir history. com

Galbraith melaporkan jumlah kasus pati padam diri di AS pada kamar Oktober dan November 1929 merupakan yang terendah dari bulan-bulan yang lain di tahun itu. Kasus bunuh diri di tahun 1929 malah terjadi pada musim panas sebelum pasar saham ambrol.

Tetapi, kabar palsu mengenai gaya bunuh diri tersebut menyebar secara cepat pada bulan November 1929.

Patuh sejarawan bisnis dan keuangan, John Steele Gordon, mitos investor yang terjun dari gedung tersebut pegari dari seorang wartawan Inggris, yang juga terkena dampak dari ambrolnya pasar saham. Menurut Gordon, wartawan tersebut menyaksikan kecelakaan seorang pengunjung galeri, dan mengatakan mayat tersebut jatuh tak jauh dari dirinya. Wartawan tersebut adalah Wiston Churchill, yang kelak menjadi Perdana Gajah Inggris.

Melansir History , Churchill zaman itu sedang berada di Savoy Plaza Hotel saat berkunjung ke New York City, dan menyaksikan kejadian tersebut. “Di bawah jendelaku, seorang pria melemparkan dirinya tunggal dari lantai 15 dan jauh berkeping-keping, menyebabkan keributan liar & pemadam kebakaran berdatangan, ” memikirkan Churchill di Daily Telegraph London pada 9 Desember 1929.

Yang disaksikan oleh Churchill itu adalah tewasnya Dr. Otto Matthies, ahli kimia Jerman yang jatuh dari  lantai 16. Melansir History, kejadian tersebut terjadi pada 24 Oktober pagi, sehingga tidak mampu dikaitkan dengan ambrolnya pasar saham AS.  

Meski investor bunuh saat Black Thursday merupakan mitos, tetapi faktanya setidaknya ada 2 orang dengan meninggal terjun dari gedung kaum pekan setelahnya. Hulda Borowski dilaporkan terjun dari gedung Equitable Building pada 7 November. Bosnya zaman itu mengatakan Borowski kelelahan karena terlalu banyak pekerjaan. 9 Hari kemudian, George Cutler, kepala perusahaan grosir, yang listing di New York Merchantile Exchange, yang merasai kerugian besar di pasar, terjun dari lantai 7 kantor pengacaranya, dan jatuh di atas mobil yang parkir di Wall Street.

TIM RISET CNBC  INDONESIA 

Saksikan video terkait di lembah ini:

(pap/gus)

Author Image
Carl Wood