Era Dahlan Sebut Donald Trump Konsisten, Bohongnya!

Era Dahlan Sebut Donald Trump Konsisten, Bohongnya!

Jakarta, CNBC Indonesia – Gajah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) era 2011-2014 Dahlan Iskan  tak henti-hentinya mengalisis  sejumlah tema-tema yang menjadi isu hangat di Negara dan global.

Sebelumnya Dahlan  buka suara soal sujudnya Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini saat melakukan pertemuan dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dengan para-para direktur rumah sakit di Tanah air Surabaya, Jawa Timur.

Menurut Dahlan, reaksi sujud Risma di hadapan para dokter dan IDI lebih heboh lantaran kemarahan Presiden  Joko  Widodo  (Jokowi).   Sebelumnya lagi bekas Dirut PLN ini juga mengomentari bagaimana amarah Presiden Jokowi  serta ketakutan para menteri soal intimidasi melanggar  aturan.


Saat ini, tepat di Hari Kemerdekaan GANDAR Sabtu 4 Juli ini, Dahlan  juga mengungkapkan isi pikiran  di blog   pribadinya, disway. id.

Hari Kemerdekaan AS diperingati setiap tanggal 4 Juli, bertepatan secara disahkannya Deklarasi Kemerdekaan oleh Konvensi Kontinental Kedua pada 4 Juli 1776. Deklarasi tersebut merupakan proklamasi kemerdekaan 13 Koloni dari Negeri Britania Raya.

Beserta tulisan lengkap Dahlan  Iskan:

Ulang Tarikh

“I do, I do”.

Yang mengatakan itu Presiden Donald Trump. Yakni setelah tiga hari terakhir itu lonjakan penderita Covid-19 luar lazim di Amerika. Sehari saja bisa 50. 000 penderita baru. Bertambah besar dari angka di Indonesia selama tiga bulan.

Tapi sikap si presiden tidak berubah. Termasuk masih yakin bahwa Covid-19 ini tidak berbahaya. Ia juga tetap menolak untuk memakai masker.

Bahkan Trump menjadikan masker untuk mengejek capres lawannya: Joe Biden –yang selalu hadir mengenakan masker.

Lihat wajah Biden, kata pendahuluan Trump, seperti pepes.

Maka wartawan pada Amerika pun ingin tahu: apakah Trump tetap percaya bahwa Covid-19 akan hilang sendiri dari membuang bumi.

“I do, I do, ” katanya.

Kebohongan memang hanya bisa ditutupi dengan kebohongan yang lebih gede. Atau dengan meminta maaf.

Tapi, rupanya, tidak ada kata “maaf” di kamus Trump.

Karena itu ia konsisten –bohongnya.

Dulu Trump berpendapat Covid-19 –ia sebut sebagai kungflu– lebih remeh dari flu biasa. Ketika ternyata lebih serius ia bilang obatnya sudah ditemukan.

Ketika diketahui itu hanya obat malaria, ia mengatakan pendek lagi Covid-19 akan hilang –seiring dengan datangnya musim panas.

Bulan Juli ini adalah puncak musim radang di Amerika. Justru di depan Juli ini terjadi lonjakan yang belum pernah terjadi di musim dingin sekali pun.

Trump bergeming.

“Sebentar teristimewa juga akan hilang sendiri. Serta lagi vaksin anti Covid-19 segera datang, ” begitu kurang bertambah pendapatnya.

Maka inilah 4 Juli (Sabtu besok) yang sangat berbeda di Amerika. Saya jadi ingin tahu bagaimana Trump merayakan ulang tahun kemerdekaan Amerika kali ini.

Saya telah ikut merayakannya Jumat pagi kemarin. Dengan cara memenuhi permintaan Konsulat Amerika di Surabaya: menjadi pensyarah tunggal di forum Instagram (IG) live. Yang dihadiri oleh itu yang pernah diundang ke Amerika oleh pemerintah Amerika.

Saya diminta menerangkan pengalaman itu. Juga menjawab pertanyaan para pemirsa IG live. “Siapa tahu masih ingat, ” perkataan Esti, staf di Konsulat Amerika yang menjadi moderator di perhimpunan itu.

Tentu, saya masih ingat. Walaupun peristiwa itu sudah 35 tarikh lalu.

Itulah untuk kali pertama beta ke Amerika. Bukan main senangnya. Apalagi saya boleh ke mana pun. Saya diminta mengajukan daftar keinginan. Akan dipenuhi semua.

Tentu hamba tahu diri: lebih banyak mengambil ke kantor-kantor surat kabar. Termasuk ke surat kabar kecil dalam kota kecil di pedalaman pusat Amerika.

Tapi saya juga mengajukan suruhan ke tempat rekreasi: Disney World dan Universal Studio. Dikabulkan pula. Saya pun dibawa ke Walt Disney World Resort di Orlando, Florida. Juga ke Universal Studio di California.

Saya juga mengaku –di forum IG live itu– hangat saat ke sana itulah saya tahu Amerika itu negara betul besar –segala-galanya.

Saya tahu Amerika itu hebat, tapi nilai hebat itu baru terasa ketika di kian.

Harus saya akui –dan sudah sering saya akui– Amerika, lewat undangannya untuk saya itu, telah mengganti peta persuratkabaran di Indonesia.

Sepulang lantaran Amerika saya rombak habis Jawa Pos. Termasuk ruang redaksinya. Serupa komputerisasinya –pun sebelum koran terbesar di Jakarta melakukannya.

Bentuk ruang sidang pengarang Jawa Pos –yang kemudian terbatas sebagai terbaik di dunia itu– idenya dari kunjungan itu.

Yang pertama pula menjadi koran berwarna. Cetak jarak jauh. Punya anak-anak surat kabar di semua kota. & banyak lagi.

Sejak itu pula kami meneguhkan niat: tiap enam kamar harus ke Amerika. Untuk honorarium ide. Amerika lah negara ideal yang sesungguhnya.

“Terima kasih saya ke Amerika itu, harusnya saya tunjukkan sampai bersujud dan menangis di lantai, ” kata saya di forum itu.

Selamat ulang tahun Amerika! Saya merayakannya dengan sangat istimewa: menerbitkan Harian DI’s Way. Dengan bukan koran. Agar lebih berpengaruh –kalau jadi.

Saksikan video terkait di bawah ini:

(tas/tas)

Author Image
Carl Wood