Efek Gelombang Kedua Corona Pudarkan Daya Tarik Dolar AS

Efek Gelombang Kedua Corona Pudarkan Daya Tarik Dolar AS

Jakarta, CNBC  Indonesia –  Perdagangan dolar Amerika Serikat (AS) lesu pada perdagangan Senin (22/6/2020) akibat risiko penyebaran pandemi penyakit virus corona (Covid-19) gelombang ke-2 ( second wave ). Tidak seperti biasanya, dolar AS yang menyandang status safe haven justru kali ini mengalami pelemahan.

Indeks dolar GANDAR, yang mengukur kekuatan mata uang Paman Sam tersebut, melemah 0, 23% ke 97, 4 pada pukul 19: 09 WIB. Indeks dolar dibentuk dari enam gegabah uang mitra dagang AS yakni euro, yen, poundsterling, dolar Kanada, krona Swedia, dan franc Swiss.

Terpantau di masa yang sama, dolar AS melemah 0, 31% melawan euro, 0, 42% di hadapan poundsterling, dan 0, 25% melawan franc Swiss. Melayani dolar Kanada dan krona Swedia, the greenback juga melemah  0, 31% dan 0, 63%, sementara melayani yen stagnan.


Aliran kedua Covid-19 kini memang pantas mengintai. China, negara asal virus corona dan sebelumnya sudah lulus meredam penyebarannya kini kembali bertemu peningkatan kasus.

Tetapi, episenter penyebaran Covid-19 kini berada di ibu kota Beijing. Setelah 50 hari tanpa transmisi lokal Covid-19 alias nol kasus, Beijing melaporkan kasus pertama pada Jumat (12/6/2020). Komisi Kesehatan Nasional China hari ini melaporkan 18 kasus Covid-19 baru, sembilan di antaranya di Beijing, sehingga total urusan di Beijing saat ini 236 orang.  

Dari Eropa, Jerman level reproduksi (Rt) Covid-19 pada hari Minggu naik menjadi 2, 88 dari sebelumnya 1, 79. Artinya 1 orang yang terinfeksi Covid-19 dapat menularkan ke 2, 88 orang, atau dari 100 karakter dapat menularkan ke 288 orang. AS juga melaporkan rekor penggandaan kasus per hari di kaum negara bagian.

Minggu kemarin, AS melaporkan jumlah kejadian baru pada Jumat dan Sabtu lebih dari 30. 000 orang. Kenaikan tersebut menjadi yang terbesar sejak 1 Mei, berdasarkan bahan Johns Hopkins CSSE sebagaimana dilansir CNBC International.

Sebanyak 7 negara bagian dilaporkan mencatat rekor penambahan kasus Covid-19 yakni Florida, South Carolina, Missouri, Nevada, Montana, Utah, dan Arizona. Peningkatan kasus Covid-19 terjadi setelah  lockdown dilonggarkan. Warganya kembali beraktivitas, tetapi banyak yang tidak memasukkan protokol kesehatan, sehingga kembali berlaku lonjakan kasus.

Bila jumlah kasus terus meningkat dalam seluruh AS, maka kebijakan penjarakan sosial ( social distancing)   akan kembali diterapkan, dan berisiko memukul lagi perekonomian AS. Lonjakan kasus tersebut mau membuat daya tarik dolar GANDAR menurun, menurut analis Deutsche  Bank  Sameer Goel.

Mengutip  CNBC International , Goel mengatakan pasar mata uang masa ini menghadapi “berbagai arus silang” di tengah kekhawatiran gelombang kedua Covid-19 di dunia. “Pertanyaan besar” bagi investor saat ini merupakan apakah dolar AS masih akan menjadi aset safe haven saat tumbuh potensi gelombang kedua tersebut.

Goel menyatakan, potensi lonjakan kasus Covid-19 akan membuat dolar AS melemah melawan mata kekayaan negara maju lainnya, bahkan prospek juga melemah melawan yuan China. “Permintaan dolar AS dalam iklim darurat tampaknya mulai berkurang” sirih Goel sebagaimana dilansir CNBC International.

TIM RISET CNBC NUSANTARA

Saksikan video terkait dalam bawah ini:

(pap/pap)

Author Image
Carl Wood