Dolar Diramal ‘Mujur’ saat AS ‘Hancur’, Rupiah Apa Kabar?

Dolar Diramal ‘Mujur’ saat AS ‘Hancur’, Rupiah Apa Kabar?

Jakarta, CNBC  Indonesia –  Mata uang dolar Amerika Serikat (AS) masih perkasa sepanjang tahun ini, meski perekonomian Negeri Paman Sam sedang “hancur-hancuran” akibat pandemi penyakit virus corona (Covid-19). Sebabnya, status aset aman ( safe haven ) yang disandang membuat dolar jadi incaran pelaku pasar.

Indeks dolar AS (DXY) sepanjang tahun ini hingga Senin (11/5/2020) kemarin mencatat penguatan nyaris 4%, dan berada di atas level 100. Indeks dolar dibentuk dari enam mata uang yakni european, yen, poundsterling, dolar Kanada, krona Swedia, dan franc Swiss. Indeks ini juga dijadikan tolak ukur kekuatan dolar AS terhadap mata uang lainnya.

Bukan hanya sepanjang tahun ini, dolar AS malah diprediksi masih akan perkasa dalam 6 bulan ke depan.



Hal tersebut ditunjukkan oleh hasil polling yang dilakukan Reuters terhadap 34 ahli muslihat mata uang. Hasilnya, sebanyak 26 orang memprediksi dolar AS masih akan perkasa setidaknya hingga triwulan III-2020, 7 orang mengatakan dolar masih akan perkasa tetapi kurang dari 3 bulan, sementara 1 orang mengatakan penguatan the greenback sudah berakhir.

Foto: Reuters

“Meskipun anda sudah melewati fase panik, tetapi dalam beberapa bulan ke depan kita akan melihat banyak data ekonomi, dan data tersebut akan buruk. Saya pikir dengan kondisi tersebut, dari sudut pandang inivestor tidak akan mau mengambil risiko, sehingga mereka akan enggan untuk mengalirkan modal ke negara-negara yg lebih rentan terhadap risiko” kata Jane Foley, kepala ahli muslihat valas di Rabobank, sebagaimana dilansir Reuters .  

Dengan kata lain, aliran modal masih akan tetap pada dan menuju ke AS yang merupakan negara terkuat di muka bumi ini, meski sedang mengalami kemerosotan ekonomi. Sehingga dolar AS masih akan perkasa beberapa bulan ke depan.

Meski demikian, pergerakan dolar AS sendiri akan sangat dipengaruhi oleh pandemi Covid-19, menurut hasil polling Reuters tersebut. Jika tanpa perkembangan yang signifikan, dalam arti penyebarannya  belum berhasil dihentikan, maka dolar masih akan tetap perkasa. Tetapi ketika Covid-19 berhasil dihentikan atau diredam, maka dolar AS menjadi kurang menarik.

Oleh sebab itu dalam jangka panjang, keperkasaan dolar AS diprediksi jadi runtuh.

“Anda harus melihat dalam 4 / 5 tahun sebelumnya ketika dolar AS kuat berkat keunggulan yield dibandingkan mata uang utama lainnya, ekonomi AS juga jauh lebih unggul dibandingkan negara-negara maju lainnya, ” kata Lee Hardman, ekonom  mata uang di MUFG, sebagaimana dilansir Reuters .

“Tetapi kami pikir di dalam 12 bulan ke depan ketika keadaan menjadi normal, maka kondisinya akan berbeda dengan 12 bulan yang lalu karena yield di BECAUSE saat ini sangat rendah, dan selisih yield dengan negara-negara lainnya sudah tidak ada lagi, ” tambahnya.

Yield atau imbal hasil di AS saat ini terkadang sedang sangat rendah setelah bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) membabat habis suku bunganya jadi 0-0, 25% pada Maret selanjutnya.

Produce obligasi (Treasury) SINCE tenor 10 tahun saat ini berada di kisaran 0, 686%, bandingkan dengan satu tahun lalu yang masih di kisaran two, 5%. Sementara yield  obligasi pemerintah Jerman (Bund) tenor yang sama saat terkait berada di kisaran 0, 5%, dan yield obligasi pemerintah Inggris (Gilt) tenor 10 tahun berada di kisaran 0, 264%.    

Author Image
Carl Wood