Belajar Dari Kudus, Jangan Remehkan Peta Zonasi Risiko

Jakarta, CNBC  Indonesia kacau Perkembangan peta zonasi risiko per 30 Mei 2021, masih harus diwaspadai. Kemajuan terkini, daerah zona abang (risiko tinggi) naik lantaran 10 menjadi 13, Zona oranye (risiko sedang) terbang dari 302 menjadi 322 dan zona kuning (risiko rendah) menurun dari 194 menjadi 171 kabupaten/kota. Di zona hijau tidak terdampak masih 7 kabupaten/kota dan tidak ada kasus anyar tetap 1 kabupaten/kota.

“Ini adalah jalan yang tidak diharapkan. Sebab semakin banyak kabupaten/kota dalam Indonesia yang memiliki efek penularan tingkat sedang serta tinggi, ” Juru Bicara Satgas Penanganan COVID-19 Prof Wiku Adisasmito dalam bukti pers Perkembangan Penanganan COVID-19 di Graha BNPB, Jumat (4/6/2021) yang juga disiarkan kanal YouTube Sekretariat Kepala.

Yang menetapkan menjadi perhatian, penambahan daerah masuk zona merah merupakan kontribusi dari 9 kabupaten/kota yang berpindah. Dan daerah-daerah ini didominasi dari Pulau Sumatera. Perpindahan ke kawasan merah, menandakan penanganan dalam wilayah tersebut butuh lekas diperbaiki. Rinciannya Bengkulu Utara, Kota Solok, Pasaman Barat, Solok, Kota Prabumulih, Dairi, Kota Batam, Melawi & Kudus.


Untuk tersebut, kesiagaan pemerintah daerah maka ke tingkat kabupaten/kota sangat dibutuhkan. Karena saat ini Indonesia berada dalam potensi lonjakan akibat dampak dibanding libur Idul Fitri. Serta kesiagaan ini ditujukan biar daerah tetap dapat mengatasi potensi kenaikan kasus COVID-19 dengan baik.

Belajar dari apa dengan dialami Kudus, bahwa selama 3 minggu sebelumnya berharta di zona oranye. & karena tidak ditangani secara baik, daerahnya berpindah ke zona merah. Dan situasi serupa dapat terjadi dalam 322 kabupaten/kota yang beruang di zona oranye zaman ini.

Pemerintah provinsi yang daerahnya masuk zona merah harus meningkatkan testing pada warganya dengan baru pulang dari berjalan. Testing juga dapat dilakukan kepada yang baru pulang bepergian, atau baru dikunjungi keluarga dari luar wilayah tempat tinggalnya pada periode libur Idul Fitri cerai-berai.

Pemerintah daerah juga harus memastikan kemudahan pelayanan kesehatan memadai & siap menangani pasien COVID-19 dengan gejala sedang tenggat berat. Dan upaya antisipasi ini harus dilakukan menetapi tingkat keterisian tempat terbaring di rumah sakit cenderung meningkat pada beberapa kawasan.

“Ingat, zonasi risiko ini bukan sekedar zonasi yang bisa diabaikan dan dianggap enteng. Kepala daerah harus memantau kelanjutan kabupaten/kota di daerahnya masing-masing, ” tegas Wiku.

[Gambas:Video CNBC]
(dob/dob)

Author Image
Carl Wood